Campus Talk Mental Health 2026 "Understanding Emotions and Asking for Help”

Publish by Humas  |  30 September 2026  |  3

all fakultas-kedokteran-dan-ilmu-kesehatan

 Jumat, 25 September 2026,  berlangsung Campus Talk Mental Health Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) yang bertemakan Understanding Emotions and Asking for Help di Auditorium Kampus II UKRIDA.

Pada Jumat, 25 September 2026,  berlangsung Campus Talk Mental Health Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) yang bertemakan Understanding Emotions and Asking for Help di Auditorium Kampus II UKRIDA. Kegiatan ini menjadi salah satu pembekalan bagi mahasiswa dalam memahami dan menjaga kesehatan jiwa, khususnya dalam menghadapi berbagai tekanan selama menjalani kehidupan akademik. 

Kegiatan ini menghadirkan dr. Theresia Citraningtyas Budianta, MWH., Ph.D., Sp.KJ. selaku perwakilan FKIK UKRIDA dan Dr. dr. Enrico Adhitya Rinaldi, M.A.R.S., M.H., M.M., CHRM., CPM (Asia)., FISQua. selaku Direktur RSKJ Dharmawangsa. Materi utama disampaikan oleh dr. Hans Christian, Sp.KJ. yang membahas pentingnya mengenali emosi dan memahami kapan seseorang perlu mencari bantuan.

Kesehatan jiwa menjadi penting karena mahasiswa, termasuk mahasiswa di bidang kesehatan, tidak terlepas dari tekanan akademik maupun tuntutan selama proses pendidikan. Dalam materi, disampaikan bahwa 27,2% mahasiswa kedokteran dalam data global mengalami depresi atau gejala depresi, sementara 11,1% melaporkan ide bunuh diri. Selain itu, hanya 15,7% mahasiswa yang memiliki hasil skrining positif terhadap depresi yang dilaporkan mencari pengobatan psikiatri. Materi juga menyoroti adanya peningkatan median gejala depresi sebesar 13,5% setelah mahasiswa memasuki pendidikan kedokteran. Data tersebut menunjukkan pentingnya perhatian terhadap kesehatan jiwa sejak mahasiswa masih berada dalam lingkungan pendidikan, bukan hanya ketika masalah sudah muncul.

Dalam kegiatan ini, mahasiswa diajak melihat emosi bukan sebagai tanda kelemahan, tetapi sebagai sinyal yang memberikan informasi mengenai kondisi diri. Emosi seperti sedih setelah memperoleh hasil nilai  ujian yang tidak sesuai harapan dapat menjadi respons yang wajar. Tetapi kondisi perlu diperhatikan ketika perasaan menjadi intens, menetap, dan mulai mengganggu fungsi seperti kuliah, tidur, hubungan dengan orang lain, atau rasa berharga. Mahasiswa juga diajak memiliki emotional granularity, yaitu kemampuan memberi nama yang lebih tepat terhadap perasaan yang dialami. Perasaan “capek”, misalnya, dapat ditelusuri menjadi kecewa, takut gagal, kesepian, bersalah, marah, cemas, atau hampa.

Pemahaman terhadap emosi juga penting karena mahasiswa di bidang kesehatan dapat menghadapi pengalaman emosional yang khas, seperti impostor feeling, rasa bersalah ketika beristirahat, moral distress dalam situasi klinis, maupun duka ketika menghadapi kematian pasien. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa tantangan dalam pendidikan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan tuntutan akademik, tetapi juga dengan pengalaman emosional yang perlu dikenali dan dikelola.

Selain mengenali emosi, kegiatan ini menekankan bahwa meminta bantuan merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan jiwa. Mahasiswa diperkenalkan dengan safety plan, yaitu rencana pribadi yang dapat disiapkan ketika kondisi sedang tenang dan digunakan ketika menghadapi krisis. Rencana tersebut mencakup mengenali tanda bahaya, melakukan langkah untuk meredakan emosi, menggunakan distraksi, menghubungi orang yang dipercaya, mencari bantuan profesional, serta menciptakan lingkungan yang lebih aman.

Mahasiswa juga diajak melakukan refleksi melalui worksheet untuk mengenali makna dalam hidup, tanda-tanda krisis, orang yang dapat dipercaya, serta sumber bantuan yang dapat diakses. Dengan demikian, kesehatan jiwa tidak hanya dipahami sebagai kondisi ketika seseorang mengalami masalah, tetapi juga sebagai sesuatu yang perlu dijaga melalui kesadaran diri, dukungan sosial, dan keberanian untuk mencari pertolongan.

Melalui Campus Talk Mental Health, mahasiswa diharapkan tidak lagi mengabaikan perubahan emosi maupun perilaku yang mengganggu keseharian. Kegiatan ini mendorong mahasiswa untuk lebih peka terhadap kondisi diri, memahami bahwa mencari bantuan bukanlah tanda kelemahan, serta mengetahui bahwa dukungan dari orang terdekat maupun tenaga profesional dapat menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan jiwa.

 

Kezia Octavina Siagian - 142024027

Berita Populer

5 Berita populer bulan ini

Berita terkait