Promosi Doktor Dr. Marcel, Dosen Program Studi Pengalaman Digital Cerdas dan Inovasi (Sistem Informasi) Ukrida, Angkat Pembelajaran Sosial Kolaboratif untuk Menjawab Kesenjangan Literasi Digital Peri-Urban

Publish by Humas  |  10 September 2026  |  15

sistem-informasi

Dr. Marcel mengembangkan model pembelajaran sosial kolaboratif Connect, Collaborate, dan Cultivate untuk meningkatkan literasi digital masyarakat peri-urban dan mengubah akses teknologi menjadi keterampilan serta peluang nyata.

Dekat dengan pusat teknologi tidak selalu berarti masyarakat lebih berdaya secara digital. Wilayah peri-urban di sekitar pusat ekonomi seperti Jabodetabek dapat memiliki akses internet yang relatif baik, tetapi belum tentu mampu mengubahnya menjadi keterampilan, produktivitas, dan peluang nyata. Persoalan ini menjadi fokus disertasi Dr. Marcel, Dosen Program Studi Pengalaman Digital Cerdas dan Inovasi (Sistem Informasi) Ukrida, yang dipertahankan dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor di BINUS University, Kampus Alam Sutera, Senin, 7 September 2026.

Melalui disertasi “Model Pembelajaran Sosial Kolaboratif untuk Meningkatkan Literasi Digital Komunitas Masyarakat Wilayah Peri-Urban”, Dr. Marcel mengangkat fenomena proximity paradox: kedekatan geografis dengan pusat ekonomi dan teknologi tidak otomatis membuat masyarakat lebih mampu memanfaatkan teknologi secara produktif. Temuan ini sekaligus memperjelas perkembangan persoalan kesenjangan digital, yang tidak lagi hanya berbicara tentang akses terhadap teknologi, tetapi juga kesenjangan dalam kemampuan menggunakannya dan, lebih jauh lagi, kesenjangan dalam memperoleh manfaat nyata dari penggunaan teknologi tersebut.

Penelitian ini menghasilkan model pembelajaran sosial kolaboratif melalui proses Connect, Collaborate, dan Cultivate. Anggota komunitas tidak hanya menerima materi, tetapi belajar dari contoh, pengalaman, diskusi, praktik bersama, dan persoalan nyata di lingkungannya. Teknologi berperan sebagai pendukung, sementara komunitas menjadi ruang utama tempat pembelajaran dan perubahan berlangsung.

Kontribusi penting penelitian ini menunjukkan bahwa literasi digital seharusnya tidak berhenti pada kemampuan menggunakan teknologi. Kemampuan tersebut perlu berkembang menjadi digital agency, yaitu kemampuan dan inisiatif untuk mengambil tindakan serta menentukan pilihan dengan memanfaatkan teknologi. Namun kemampuan dan inisiatif saja belum cukup. Dibutuhkan opportunity scaffolding, yaitu dukungan yang membuka jalan menuju kesempatan nyata, seperti mentor, jaringan, ruang praktik, kolaborasi, serta peluang ekonomi dan sosial. Dengan demikian, prosesnya bergerak dari mampu menggunakan teknologi, mampu bertindak dengan teknologi, hingga memiliki jalan untuk mengubah kemampuan tersebut menjadi peluang dan dampak nyata.

Proses penelitian juga menghadapi tantangan dalam menjangkau pemuda dengan aktivitas yang beragam, menjaga partisipasi, menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan komunitas, serta menghadapi keterbatasan sarana. Pengalaman lapangan ini semakin menegaskan bahwa pengembangan literasi digital tidak dapat menggunakan pendekatan one size fits all.

Kepala BPSDM Kementerian Komunikasi dan Digital, Bapak Bonifasius Wahyu Pudjianto, Ph.D., menilai penelitian ini relevan dengan pengembangan sumber daya manusia digital menuju Indonesia Emas 2045. Ia juga membuka peluang kolaborasi, termasuk pengujian model melalui pilot project.

Ke depan, penelitian ini diarahkan untuk diuji pada konteks yang lebih beragam melalui kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan komunitas. Tujuan strategisnya bukan sekadar membuat masyarakat semakin digital, tetapi membantu mereka mengubah kemampuan digital menjadi tindakan, kesempatan, dan dampak nyata bagi kehidupan serta lingkungannya.

 

Angelicya Theophila Duarta