Pendidikan Seksualitas: Membuka Ruang Aman bagi Remaja untuk Bertanya
Seminar Pendidikan Seksualitas di SMAK PENABUR Kota Jababeka bersama Dr. Pinkan Margaretha, M.Psi., Psikolog, Dosen Fakultas Psikologi Ukrida, menghadirkan ruang diskusi yang aman
Pendidikan seksualitas pada remaja tidak cukup hanya berbicara tentang perubahan fisik, organ reproduksi, atau risiko perilaku seksual. Remaja juga membutuhkan ruang yang aman untuk memahami dirinya, relasi dengan orang lain, serta berbagai informasi tentang seksualitas yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
Hal inilah yang terlihat dalam kegiatan Seminar Pendidikan Seksualitas bagi siswa SMAK PENABUR Kota Jababeka, pada hari Selasa, 14 Juli 2026. Dalam kegiatan tersebut, Dr. Pinkan Margaretha, M.Psi., Psikolog, selaku Kepala PLP UKRIDA memfasilitasi siswa untuk mengajukan pertanyaan secara anonim. Cara ini dipilih agar mereka dapat bertanya dengan lebih terbuka tanpa khawatir merasa malu atau dinilai oleh orang lain.
Pertanyaan yang terkumpul ternyata sangat beragam. Siswa tidak hanya bertanya mengenai batasan dalam pacaran dan cinta. Mereka juga mempertanyakan ketertarikan dan identitas seksual, cara mengelola dorongan seksual, hubungan yang sehat, consent dan pelecehan seksual, kesehatan reproduksi, hingga pengaruh pornografi, anime, webtoon, game, dan berbagai media digital terhadap seksualitas.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut memperlihatkan bahwa remaja sedang berhadapan dengan dunia informasi yang sangat kompleks. Mereka mendapatkan informasi bukan hanya dari orang tua dan sekolah, tetapi juga dari teman sebaya dan media digital. Karena itu, kemampuan untuk memilah informasi serta mengambil keputusan yang sehat dan bertanggung jawab menjadi semakin penting.
Pendidikan seksualitas perlu menjadi kesempatan bagi remaja untuk memperoleh informasi yang benar sekaligus belajar mengenali diri, menghargai tubuh sendiri dan orang lain, memahami batasan dalam relasi, serta bertanggung jawab terhadap pilihan yang dibuat.
Bagi sekolah dan orang tua, pertanyaan remaja sebaiknya tidak segera dipandang sebagai tanda perilaku bermasalah. Pertanyaan justru dapat menjadi pintu masuk untuk memahami dunia mereka.
Remaja akan terus mencari jawaban. Karena itu, tantangan bagi orang dewasa bukan bagaimana membuat mereka berhenti bertanya, melainkan bagaimana menjadi orang dewasa yang cukup aman untuk menjadi tempat mereka bertanya.
Dr. Pinkan Margaretha, M.Psi., Psikolog - Dosen Fakultas Psikologi
