Mengapresiasi Estetika dan Narasi Horor Klasik: Nobar Film Sajen Satu Suro
Fakultas Ilmu Komunikasi dan Humaniora (FISH) Ukrida menggelar Nonton Bareng (Nobar) dan apresiasi film Sajen Satu Suro bersama 27 siswa English Access Program di XXI Mall Puri Indah, Jakarta Barat.
Berangkat dari komitmen memperluas pengalaman belajar bahasa dan budaya melalui media kreatif, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISH) Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida) menggelar Nonton Bareng (Nobar) sekaligus apresiasi film Sajen Satu Suro pada Kamis, 30 Juli 2026 pukul 16.35 WIB di XXI Mall Puri Indah, Jakarta Barat, khusus bagi siswa English Access Scholarship. Kegiatan ini hadir atas undangan khusus Bapak Yohanes Gatot Subroto, sutradara film Sajen Satu Suro sekaligus co-director Suzzanna: Bernapas dalam Kubur, yang pernah membagikan ilmu penulisan skenario sebagai dosen tamu mata kuliah Screenplay Writing di FISH Ukrida.
Acara ini dihadiri Dekan FISH Ukrida sekaligus pengajar Access, Dr. Ira Rasikawati, S.S., M.Hum., dua pengajar Ms. Ghassani Mandasari dan Ms. Bilqis Ulfah Apriyadin, serta 27 siswa English Access Program. Kehadiran jajaran pengajar ini bertujuan memberikan ruang pembelajaran kontekstual di luar kelas guna mengasah pemahaman naratif, menganalisis estetika visual, hingga mempelajari pengembangan karakter langsung dari praktisi industri film. Berlatar suasana malam Satu Suro yang identik dengan tradisi Jawa, film ini menuturkan perjalanan Tania menyelamatkan sang ibu melalui misi mengembalikan keris warisan keluarga—sebuah alur yang mempertemukan harapan dengan ketakutan serta menyajikan pengalaman sinematik yang sarat refleksi tentang pengampunan, pengorbanan, dan konsekuensi pilihan.
Pengalaman ini kian bermakna sebagai kelanjutan Workshop Acting for Screen pada 8 Juli 2026 lalu bersama Ukrida Theater Club. Dalam workshop tersebut, Bapak Gatot menekankan pentingnya kedalaman karakter: "Aktor bukan hanya menghafal dialog. Yang paling penting adalah memahami subtext, yaitu apa yang sebenarnya dirasakan dan dipikirkan karakter di balik kata-kata yang diucapkan. Di situlah letak kekuatan sebuah penampilan."
Berbekal wawasan tersebut, siswa menerapkan sudut pandang kritis saat menyaksikan pemutaran film. Berbagai apresiasi positif pun mengalir seusai pemutaran; Dr. Ira Rasikawati mengungkapkan, "I guess this is the first Indonesian horror movie that I've seen so far. So I would rate 9 out of 10. It's really interesting, so you should watch and see the film yourself." Kevin terpukau oleh kearifan lokal film, "Alurnya sangat menarik... aku jadi tahu urban legend-nya. Dari rating 1–10, aku bakal lebihin jadi 100 dari 10." Nisah dan Andisa mengagumi ketegangannya, "Paling seru pas jump scare di kuburan... alurnya gak ketebak. Dari 1 sampai 10, kita kasih nilai 9!" Sheren dan Devina turut memuji visualnya, "We're speechless! Dari view, lighting-nya sangat menarik, dan plot twist-nya bikin shock."
Mendengar antusiasme ini, Bapak Gatot menyampaikan rasa apresiasinya: "Saya sangat senang FISH Ukrida dan siswa-siswi Access menyukai cerita horor klasik ini. Senang rasanya karya ini bisa relate ke kalian, terutama pesan moral mengenai tema pengampunan, tabur tuai, dan self-sacrifice yang ada di dalamnya."
Sebagai penutup, pemutaran film ini memberikan pengalaman belajar utuh yang memadukan hiburan visual dengan perluasan wawasan kearifan lokal. Sinergi edukatif ini diharapkan terus berlanjut guna melahirkan generasi muda yang kritis serta mampu mengapresiasi seni budaya nasional maupun internasional.
Deobrah Vemi - 712023011



