Psikologi Ukrida Bekali Penatua GKI Klasis Jakarta Selatan Mengelola Konflik melalui Pemahaman Kepribadian dan Pola Asuh

Publish by Humas  |  17 Juli 2026  |  8

all psikologi

Fakultas Psikologi Ukrida memberikan pembekalan kepada sekitar 50 penatua GKI Klasis Jakarta Selatan mengenai pengelolaan konflik melalui pemahaman kepribadian dalam kegiatan Pembinaan Penatua di Bogor.

Bogor, 11 Juli 2026 – Sekitar 50 orang penatua dari berbagai Gereja Kristen Indonesia (GKI) di lingkungan Klasis Jakarta Selatan (KJS) mengikuti kegiatan Pembinaan Penatua yang diselenggarakan di GKI Pengadilan Bogor Barat. Kegiatan ini dikoordinasi oleh Pnt. Budi Tangendjaja selaku Panitia Pembinaan Penatua GKI KJS. Pada kesempatan tersebut, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA), William Gunawan, S.Psi., M.Min., M.Si., Ph.D., CLC, membawakan dua sesi bertema "Konflik dan Kepribadian" serta "Konflik dan Pola Asuh, Konsep Diri, dan Luka Batin." Melalui perpaduan perspektif psikologi dan nilai-nilai Alkitab, para peserta dibekali wawasan sekaligus keterampilan praktis untuk mengelola konflik secara lebih dewasa, empatik, dan membangun dalam pelayanan gereja.

Pada sesi pertama, peserta diajak belajar secara interaktif melalui konflik antara Paulus dan Barnabas (Kisah Para Rasul 15:36–41). Konflik dipahami bukan semata-mata sebagai persoalan benar atau salah, tetapi juga dipengaruhi oleh perbedaan nilai, gaya kepribadian, pengalaman hidup, cara berkomunikasi, serta tekanan pelayanan. Melalui aktivitas asesmen kepribadian, setiap peserta mengenali kecenderungan gaya kepribadiannya Tegas, Hangat, Damai, dan Teliti serta memahami bagaimana kekuatan dan keterbatasan masing-masing memengaruhi cara berpikir, berkomunikasi, dan menyelesaikan konflik. Pembelajaran kemudian diperdalam melalui simulasi persidangan Majelis Jemaat, di mana peserta memainkan berbagai peran dalam sebuah konflik pelayanan yang dipengaruhi oleh perbedaan kepribadian. Melalui pendekatan psikodrama, peserta tidak hanya mengamati dinamika konflik, tetapi juga merefleksikan lesson learned mengenai pentingnya memahami perspektif orang lain, mengelola emosi, serta membangun komunikasi yang sehat. Sebagai bekal praktis, peserta diperkenalkan pada model D.A.M.A.I. (Dengarkan, Akui, Maknai, Ajukan, Ikat kembali komitmen) sebagai panduan menghadirkan kasih Kristus dalam setiap penyelesaian konflik. 

Pada sesi kedua, peserta diajak menelusuri akar konflik melalui kisah Yusuf dan keluarganya (Kejadian 37–50). Materi menekankan bahwa konflik sering kali tidak hanya dipicu oleh persoalan saat ini, tetapi juga dipengaruhi oleh pola asuh, konsep diri yang rapuh, pengalaman penolakan, maupun luka batin yang belum dipulihkan. Melalui aktivitas reflektif Life Journey Reflection, peserta meninjau kembali perjalanan hidup mereka untuk mengenali berbagai traumatic experiences maupun positive star moments yang membentuk diri hingga saat ini. Refleksi tersebut menggunakan pendekatan 3A (Awareness, Acceptance, Action), yaitu membantu peserta menyadari pengalaman hidup yang membentuk dirinya, menerima dan memaknai ulang masa lalu dalam terang kasih Tuhan, serta mengambil langkah nyata untuk menjalani kehidupan dan pelayanan dengan sikap yang lebih sehat, penuh pengharapan, dan berorientasi pada masa depan.

Dalam pembinaan ini ditegaskan bahwa penatua bukan dipanggil menjadi terapis, melainkan pelayan pemulihan. Oleh karena itu, peran penatua dirangkum dalam prinsip 3M, yaitu  Mengenali akar persoalan dan kebutuhan jemaat dengan empati, menemani melalui kehadiran, firman Tuhan, dan doa dalam proses pemulihan, serta mengarahkan kepada langkah-langkah yang membangun, termasuk merujuk kepada tenaga profesional apabila persoalan telah melampaui batas pendampingan pastoral. Melalui prinsip 3M ini, gereja diharapkan semakin menjadi ruang yang aman bagi pertumbuhan iman, pemulihan relasi, dan pendewasaan setiap anggotanya. 

Melalui kegiatan ini, Fakultas Psikologi Ukrida terus mengembangkan peran psikologi sebagai ilmu yang memberikan solusi bagi persoalan nyata di tengah masyarakat. Sejalan dengan semangat Lead to Impact dan Blessed to Be a Blessing, Ukrida menghadirkan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang berdampak. Dengan demikian, Ukrida terus berkarya menjadi berkat bagi gereja, masyarakat, dan bangsa Indonesia.

 

Marvell & William Gunawan S.Psi., M.Min., M.Si., Ph.D., CLC.

Berita Populer

5 Berita populer bulan ini

Berita terkait