Membesarkan Anak yang Berani, Baik Hati, dan Disukai Teman: Menumbuhkan Karakter Kristiani di Tengah Tantangan Bullying
Dekan Fakultas Psikologi Ukrida, William Gunawan S.Psi., M.Min., M.Si., Ph.D., CLC., menjadi pembicara seminar parenting tentang pencegahan bullying melalui pola asuh positif di Forum Keluarga Mahanaim GPdI Victorious Mahanaim Family pada Kamis 25 Juni 2026)
Bullying tidak hanya meninggalkan luka bagi korban, tetapi juga dapat membentuk siklus yang membuat korban berisiko menjadi pelaku di kemudian hari. Berangkat dari kepedulian terhadap tantangan tersebut, William Gunawan, S.Psi., M.Min., M.Si., Ph.D., CLC., Dekan dan Asisten Profesor Fakultas Psikologi Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA), membawakan seminar parenting bertema “Membesarkan Anak yang Berani, Baik Hati, dan Disukai Teman” dalam Ibadah Forum Keluarga Mahanaim GPdI Victorious Mahanaim Family pada Kamis (25/6/2026). Ibadah dipimpin oleh Worship Leader Ibu Natalia Subrata serta dihadiri oleh Gembala Sidang Pdt. Elisabeth T. Purnama, S.Th., dan Bapak Budiman Lie, bersama keluarga-keluarga yang mengikuti ibadah dan seminar parenting tersebut.
GPdI Mahanaim Jakarta merupakan gereja beraliran Pentakosta yang berlokasi di Jakarta Pusat dan secara rutin menyelenggarakan ibadah raya, persekutuan pemuda, serta berbagai kegiatan pembinaan keluarga. Selain melayani jemaat di gereja pusat, GPdI Mahanaim juga memiliki pos pelayanan di kawasan Tomang, Jakarta Barat. Melalui Forum Keluarga Mahanaim, gereja terus menghadirkan ruang pembelajaran yang memperlengkapi para orang tua agar mampu membangun keluarga yang sehat, bertumbuh dalam iman, dan siap menghadapi berbagai tantangan pengasuhan di era digital.
Seminar ini mengajak para orang tua melihat bahwa membentuk hati anak jauh lebih penting daripada sekadar melindungi mereka dari bullying. Mengawali sesi, William mengajak peserta kembali pada perspektif Alkitab tentang anak sebagai naḥălāh (נַחֲלָה), yaitu warisan atau titipan Tuhan (Mazmur 127:3). Melalui kisah Hana dalam 1 Samuel 1, ia menjelaskan bahwa Samuel adalah anak yang “diminta” (sha’al) kepada Tuhan dan kemudian “dikembalikan” (hish’iltihu) kepada-Nya. Orang tua diajak menyadari bahwa pengasuhan bukan sekadar mengejar prestasi atau kesuksesan anak, tetapi mempersiapkan warisan Tuhan untuk menggenapi panggilan-Nya.
Seminar kemudian membahas bahwa bullying tidak selalu berupa kekerasan fisik, tetapi juga ejekan, pengucilan, penyebaran rumor, dan cyberbullying. Mengutip berbagai penelitian psikologi, William menjelaskan bahwa satu dari tiga anak pernah mengalami bullying di sekolah dan bahwa perilaku tersebut sering berlangsung sebagai sebuah siklus. Berdasarkan Social Learning Theory dari Albert Bandura, perilaku agresif dipelajari melalui pengamatan dan pengalaman, sehingga pencegahan bullying tidak cukup hanya dengan menghentikan perilaku agresif, melainkan perlu dimulai dari pembentukan hati yang dilakukan dengan membangun lingkungan keluarga yang hangat, penuh kasih, dan menjadi teladan bagi anak. Efesus 4:31–32 menjadi dasar bahwa akar bullying adalah kepahitan, kemarahan, dan kebencian, sedangkan karakter Kristus ditandai oleh hati yang baik, penuh belas kasih, dan saling mengampuni.
Ia mendorong keluarga untuk membangun rutinitas makan malam bersama, doa keluarga, percakapan sebelum tidur, serta menciptakan teachable moments ketika anak menghadapi konflik, kegagalan, maupun persahabatan. Orang tua juga diajak membiasakan tiga pertanyaan reflektif kepada anak setiap hari, yaitu: "Siapa yang membuatmu bersyukur hari ini?", "Siapa yang mungkin sedang kesepian hari ini?", dan "Apa yang bisa kamu lakukan untuk menolongnya besok?" Melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana tersebut, empati, keberanian, kepedulian, dan kemampuan membangun relasi yang sehat diharapkan bertumbuh sebagai bagian dari karakter anak.
Salah satu bagian yang paling menginspirasi adalah ketika William membagikan pengalaman keluarganya menghadapi bullying yang dialami anaknya di sekolah. Alih-alih hanya berdoa agar anak mereka dilindungi, keluarga memilih berdoa agar Tuhan juga menjamah hati teman yang mengganggunya. Seiring waktu, hubungan yang semula dipenuhi konflik berubah menjadi persahabatan, bahkan teman tersebut menjadi pelindung bagi anak mereka. Kesaksian ini menjadi penegasan bahwa perubahan yang sejati dimulai dari hati yang dipulihkan, dan bahwa doa, kasih, serta keteladanan orang tua dapat menjadi sarana yang dipakai Tuhan untuk memutus siklus bullying dan menghadirkan rekonsiliasi.
Seminar ditutup dengan ajakan agar orang tua tidak hanya berdoa supaya anak-anak mereka dilindungi, tetapi juga berdoa agar Tuhan membentuk hati anak-anak mereka dan hati orang-orang di sekitarnya. Sebab, tujuan pengasuhan bukan hanya membesarkan anak yang sukses, melainkan membentuk generasi yang berani, baik hati, dan menjadi berkat bagi sesama sejalan dengan semangat Ukrida Lead to Impact dan motto Fakultas Psikologi, Blessed to be a blessing.
William Gunawan S.Psi., M.Min., M.Si., Ph.D., CLC.


